TUMPEK UDUH

Sabtu, 23 Mei 2026 09:04

Rahinan Tumpek Uduh atau Tumpek Wariga merupakan salah satu hari suci umat Hindu yang diperingati setiap 210 hari sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Wariga. Hari suci ini menjadi simbol penghormatan umat Hindu kepada tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan dan anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Dalam kehidupan modern saat ini, Tumpek Uduh memiliki makna yang sangat penting, terutama sebagai pengingat bagi manusia untuk menjaga keseimbangan alam. Kerusakan lingkungan, penebangan liar, pencemaran, hingga perubahan iklim menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi bersama. Karena itu, nilai-nilai Tumpek Uduh tidak hanya dimaknai sebagai tradisi ritual semata, tetapi juga sebagai ajaran spiritual untuk mencintai dan merawat alam.
Dalam Bhagavad Gita Bab III Sloka 14 dijelaskan:
Annād bhavanti bhūtāni, parjanyād anna-sambhavaḥ; yajñād bhavati parjanyo, yajñaḥ karma-samudbhavaḥ.
Yang berarti bahwa semua makhluk hidup bergantung pada makanan, makanan berasal dari alam, dan keseimbangan alam tercipta melalui yadnya serta tindakan yang benar.
Sloka ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia sangat bergantung pada tumbuh-tumbuhan dan lingkungan. Jika alam dijaga, maka kehidupan akan harmonis. Namun apabila alam dirusak demi kepentingan dan keserakahan manusia, maka penderitaan akan muncul dalam berbagai bentuk.
Selain itu, dalam Atharva Veda juga disebutkan:
Mātā bhūmih putro’ham pṛthivyāḥ
“Bumi adalah ibuku, dan aku adalah anak bumi.”
Ajaran tersebut mengajarkan bahwa manusia memiliki kewajiban moral dan spiritual untuk menjaga bumi seperti menjaga ibu sendiri.
Sebagai generasi muda Hindu, kita memiliki tanggung jawab besar untuk melestarikan alam dan budaya. Menanam pohon, menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi sampah plastik, serta membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga alam merupakan bentuk nyata pengamalan ajaran Hindu dalam kehidupan sehari-hari.
Rahinan Tumpek Uduh juga sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, khususnya aspek Palemahan, yaitu menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan. Melalui konsep ini, umat Hindu diajarkan bahwa keharmonisan hidup tidak hanya dibangun melalui hubungan antarmanusia dan hubungan kepada Tuhan, tetapi juga melalui kepedulian terhadap alam.
Sebagai mahasiswa Hindu dan bagian dari generasi penerus bangsa, sudah seharusnya kita menjadi pelopor dalam menjaga kelestarian lingkungan. Alam bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga titipan untuk generasi mendatang.
Mari menjadikan Tumpek Uduh sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran bersama bahwa menjaga alam adalah bagian dari dharma dan wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Rahajeng Rahinan Tumpek Uduh
Semoga alam tetap lestari, tumbuhan tumbuh subur, dan kehidupan manusia senantiasa harmonis dalam dharma.

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2026 bemstahlampung.orgAll Rights Reserved.